Pengikut

Jumat, 19 November 2010

Aku Sangat Bahagia Telah Mencintaimu...

Aku sangat bahagia telah mencintaimu..

Kawan-kawan, berikut adalah cerita dari seorang teman yang peduli terhadap sesama manusia. Cerita dari pengalaman hidupnya..

…Sampai saat ini aku masih sering terseret ke masa laluku yang saat ini menjadi salah satu hal yang sangat tidak ingin aku ingat lagi.

Semua bermula kurang lebih empat tahun yang lalu, saat keadaan mempertemukanku dengan seorang wanita yang begitu mengagumkan. Aku memang tidak langsung jatuh cinta padanya namun aku langsung kagum melihat kecantikan fisiknya, hal yang membuat aku lebih kagum lagi adalah ketika aku mengetahui kecantikan hatinya begitu luar biasa bahkan mengalahkan kecantikan fisiknya. Ya aku mencintainya, aku sangat mencintainya sampai membuat aku lupa akan cintaku pada Tuhan.. Astagfirullah Hal Adzim..

Tepat dihari ulang tahunku, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang selama ini kurasakan padanya.. diluar dugaanku dengan sangat santun iya mengatakan
"aku dapat membalas perasaan mu, namun belum sebagai kekasih. Mungkin besok atau nanti seiring berjalannya waktu pasti semua akan berjalan sesuai kehendakNya."

Seiring berjalannya waktu, di bulan ke enam setelah aku menyatakan, akhirnya saat itu datang, aku sangat bahagia, sangat senang hingga aku berani memberitahukan pada orang tuaku bahwa aku telah memiliki kekasih dan tak malu untuk memperkenalkan pada mereka. Saat itu umurku baru 21 tahun. Sebelumnya begitu orang tuaku mengetahui bahwa aku punya pacar, dengan keputusan sepihak, langsung saja tinggalkan wanita-wanita itu..

Aku mencintainya, sangat mencitainya.. Aku tak bisa tahan untuk tidak mendengar suara manjanya yang indah dalam waktu se-jam. Aku harus selalu menghubunginya. Cintanya bagai candu yang membuatku ketergantungan. Aku pernah bertanya,
“Sayang, apakah kamu menyayangiku”
"Astaga sayang, kamu ragu dengan perasaan ku?”
"Tidak sayang, aku hanya ingin mendengar kamu mengatakan bahwa kamu menyayangiku”
Lalu dengan suara manjanya membisikkan ke telingaku,
“iya sayang aku sangat menyayangimu..”
Aku sangat senang dan sangat bangga mendengar itu.. ya Allah, terimakasih karna kau telah mengirimkan seseorang yang menyayangiku..

Dikesempatan lain, aku kembali bertanya kepadanya,
“Sayang, boleh aku tahu mengapa kau sangat menyayangiku?”
Raut muka yang tadinya sangat ceria dan manja berubah menjadi sangat bijak dan berkata,
“Sayang mengapa kamu bertanya seperti itu?”
“Maaf sayang, tapi aku hanya ingin tahu mengapa kau begitu menyayangi Aku?
“Sayang, aku tak pernah tahu mengapa, karna aku tidak pernah butuh alasan untuk menyayangi mu. Aku hanya tahu satu hal, bahwa aku sangat menyayangimu karena kau begitu menyayangi Aku..”
Inilah salah satu hal yang selalu aku rindukan darinya.. Aku selalu mengingatnya bahkan saat aku sedang mengikuti seleksi di salah satu perusahaan yang aku idam-idamkan dimana konsentrasiku sangat di tuntut.
Aku sangat mencintainya karena dia begitu mencintaku. Aku pernah bertanya kepadanya lewat pembicaraan di telepon,
“Sayang apakah kamu merindukanku?”
Dia lalu menjawab,
“Sayang, apakah kamu merindukan ku saat ini? jika iya, maka itu karena aku sangat merindukan mu”.

Saat itu juga, tanpa fikir panjang aku mengemudikan kendaraanku untuk menuju tempatnya berada.
Kami menghabiskan waktu kami bersama selama kurang lebih dua tahun, diamana hampir setiap hari kami selalu bertemu. Aku rela menempuh jarak yang panjang untuk melihat keteduhan hatinya..

Hingga akhirnya, aku ditempatkan oleh perusahaanku di luar kota dan itu berarti aku harus berpisah dengan kekasihku yang sangat ku cintai..
Sangat berat untuk jauh darinya, sangat sulit untuk tak melihat wajahnya yang selalu membuatku tenang, tak mendengar dan merasakan kemanjaan serta kebijakan yang dimilikinya..
Kami hanya dapat mengandalkan telepon untuk menjaga rasa rindu kami agar tetap sampai ketujuannya dengan penuh keidahan.

Konsentrasiku buyar.. Aku merindukannya.. Sangat merindukannya.. Aku takut kehilangan dia, takut kehilangan cintanya yang begitu indah, dan diapun seperti itu.
Pada saat jam makan Siang ataupun makan malam, dia selalu menghubungiku untuk sekedar menemani agar aku tidak makan sendirian.. Selalu membangunkan aku untuk shalat malam dan shalat subuh.. Keanggunan iman nya membuatku semakin menggila.. Suatu hari, di saat yang sangat bersejarah baginya aku sengaja tidak menghubunginya sama sekali. Ketika ia mencoba meneleponku aku selalu berpura-pura sibuk dengan pekerjaanku padahal sebenarnya aku sangat ingin mengucapkan selamat kepadanya.. namun aku menunda semua sampai saat yang tepat.

Sore itu juga aku pulang ke kotaku dengan penerbangan terakhir tanpa memberi tahu siapapun termasuk dia, lalu tiba-tiba aku muncul dihadapannya seraya mengucapakan selamat kepadanya.. Dapat kulihat dan kurasakan kesenangannya yang luar biasa. Belum pernah aku melihat dia sesenang ini selama kami bersama, hingga membuat mata beningya berkaca-kaca. Akupun sangat senang karena telah berhasil memberikan sebuah kejutan manis untuknya.. Namun, keesokan harinya aku sedikit kecewa bercampur khawatir karena ternyata ia tidak punya waktu untukku, tapi aku tetap berprasangka positif bahwa ia sengaja memberiku waktu agar dapat berkumpul bersama keluargaku. Hingga tiba hari dimana aku harus kembali ke tempat dinasku, baru ia mengajak bertemu. Aku tak pernah sadar bahwa ini adalah akhir dari segalanya, aku ingin melepas rasa rinduku padanya, namun wajahnya tidak se ceria biasanya jika aku bertemu dengannya..
Dia membuka pembicaraan dengan nada yang tertahan
“Sayang, kamu masih mencintaiku kan?"
kali ini pertanyaan itu membuat perasaan ku sangat tidak nyaman.
"ya ampun sayang, kok kamu nanya kayak gitu sih?, iya lah sayang, bahkan lebih dari sebelumnya.."
"kalau begitu, ikhlaskan saya, kita harus mengakhiri semuanya."
Entahlah.. aku tidak dapat menggambarkan kesedihan dan kehancuran yang saya rasakan saat itu, bahkan untuk menanyakan alasannya pun aku sudah tidak sanggup.. Semuanya hitam, kelam dan gelap…

Aku hanya terdiam dan menatap tajam ke arah yang tak ku tahu pasti.. Aku menoleh padanya, namun dapat kulihat hatinya jauh lebih hancur dari aku.. Kelihatan begitu jelas ia berusaha menahan airmatanya, namun semakin ia berusaha, semakin tumpah air mata itu dari kelopaknya.

“Orang tuaku telah memiliki kehendak lain atas aku..”

kalimat itu terdengar sangat parau dan di tahan-tahan.
Kembali aku hanya terdiam menahan kehancuran yang aku alami. Barus saja kami merasakan kebahagiaan yang teramat sangat, namun kini semuanya ditebus dengan akhir hubungan ini.
“Aku sudah berusaha bahkan memaksa agar kita bisa tetap bersama, namun aku takut durhaka…”
Ditengah rasa sakit hati itu, kembali terselip kebanggaanku padanya yang begitu taat dan takut dengan dosa, aku berusaha memahami semua alasannya.
Aku berdusta dengan pura-pura bijak di hadapannya semata-mata untuk menguatkan hatinya.

“Sayang, kita harus tabah. Mungkin ini lah jalan kita dari Allah. Pasti ini lah yang terbaik bagi kita berdua sayang..”

Isak tangis serta genggaman tangannya menumbangkan pertahananku.. Air mataku pun keluar tanpa isak, namun dengan sesegara mungkin ku seka agar tak terliaht kesedihan itu olehnya.

Aku hanya dapat bergumam dalam hati.. kita telah menang sayang, kita telah menang karena cinta itu telah datang pada kita, meskipun kita tak mampu menjadi juara...

Ingin sekali aku mengungkapkan alasanku sebenarnya mengapa aku bisa dengan sangat mudah mencintainya, sampai saat ini kebaikan hatinyalah yang membuatku begitu senang bisa mencintainya, namun aku tak ingin dia tahu agar kebaikannya tetap ikhlas seperti saat ini..

Malam ini aku harus pulang ke kota tempatku dinas. Kali ini tidak seperti biasa.. Di bandara aku seolah tak ingin melepaskan pelukan Ibuku yang begitu hangat. Aku ingin terus berada dalam rangkulannya dan mengunkapkan isi hatiku. Aku tak mau pergi.. aku tidak ikhlas melepaskan semuanya.. untuk pertama kalinya aku mengatakan pada ibuku di depan orang banyak…
“Bu aku sangat sayang Ibu.. aku tak mau pergi..”
Ibuku heran dengan perubahan yang terjadi padaku.. namun ia terus menguatkan aku tanpa tau masalahku yang sebenarnya.

Berat sekali rasanya langkah kaku ku ini, di atas pesawat, fikiranku tak dapat lepas dari dia.. Aku tidak ingin pergi.. Seolah sesuatu yang sangat berharga tertinggal di sana. Hal yang begitu kami jaga harus terlepas saat berada di puncak kebahagiaan.

Setiba di kota itu, tak banyak yang dapat aku kerjakan dengan baik. Fikiranku melanyang mencari tempatnya biasa bersandar.. Aku tak kuat menahan kesedihan itu sendiri, hingga ku telepon ayah dan ibu ku dengan harapan suara beliau yang sejuk dan nasihat yang mendamaikan dapat mengobatiku. Namun begitu suara itu kudengar dari ujung telepon, suara dari seorang ibu yang sangat menyayangiku, mulutku seolah terkunci.
“Bagaimana keadaan mu Nak?”
“Aku baik-baik saja Bu”

Aku rasanya aku sangat sedih mendengar wejangan dari ayah dan ibu ku di ujung telepon sana yang tidak mengetahui bagaimana sakitnya anak mereka saat ini..

Aku berusaha menyembunyikannya, namun semakin mereka mengajak ku bercerita, aku seolah semakin masuk ke dalam kondisi yang sangat tak ku inginkan. Aku ingin mengangis.. Suaraku menjadi serak.
Mendengar perubahan nada bicara ku, ibuku menjadi cemas, takut kalau penyakit typhesku kambuh.. Dapat kudengar dan kurasakan kecemasan serta kepanikannya..
“Aku sangat merindukan mu Bu..”
“Iya nak, ibu juga sangat merindukanmu. Ada apa dengan mu Nak.. Katakan pada Ibu.. Apa yang kau sembunyikan dari ibu? Kamu tidak sakit kan?”
Aku ingin menenggelamkan tubuhku dalam pelukannya yang begitu hangat.. Aku ingin dia merangkulku erat-erat dan tak dilepaskannya untuk beberapa saat..
Rasanya aku ingin menjerit dan mengaduh pada Ibuku,
“Aku sakit Bu, anak mu ini sangat sakit dan sangat membutuhkan mu..”
Namun aku menahannya..
“Kau menyembunyikan apa dari Ibu, katakanlah Nak..”

Kata-kata Ibu membuat aku tak dapat menahan kerapuhan dan kesedihanku. Semakin aku menguatkan diri, semakin deras arus kesedihan itu menghampiriku. Aku meneteskan air mata, hingga akhirnya ibuku pun meneteskan airmata menyadari kondisi anaknya..
“Pulang lah Nak. Pulang lah besok pagi…”
“Tidak Bu, di sini masa depan ku, di sini aku baik-baik saja…”

Hari masih terus berjalan dengan begitu-begitu saja dan membuat kinerjaku menurun drastis.. Hingga akhirnya kuputuskan untuk ke Psikolog guna mengurangi depresiku yang telah ku alami selama 9 bulan..

Akhirnya kudengar dia akan menikah.. Aku Ikhlaskan, meskipun aku tidak rela.. Aku hanya ingin dia bahagia.. Meski tidak bersamaku, ku hardik diriku agar bisa menerima semua… aku tak ingin menangis lagi. Akan kutahan rasa sakit ini sesakit apapun, namun tidak akan menangis.. Biarkan aku di sini dengan cintaku yang tulus padamu, seraya berdoa semoga Allah akan selalu memberi kebahagiaan pada mu, suamimu serta keluarga kecil mu yang telah terbentuk.. Aku mohon padamu, ijinkan bayang-bayang itu tetap menemaniku. Aku tak akan mengganggu kalian.

Aku akan mencoba mencintai wanita yang saat ini begitu mencitaiku… Meskipun dia tahu semua masa laluku, namun ia tetap Ikhlas menerimaku… semua untuk membuat hatimu tenang dan tidak merasa bersalah telah meninggalkanku di sini…

-End-

Kawan kawan sekalian, dari cerita di atas mungkin ada yang mengatakan bahwa ia sangat bodoh karena tak melakukan apapun untuk mempertahankan cintanya.. Ya, dia memang sangat bodoh, namun bukan itu, tapi karena telah lebih mencitai kekasihnya daripada Allah SWT, lebih merindukan wanitanya dari pada Rasul..

Atau mungkin ada yang mengatakan bahwa lelaki itu sangat kasihan. Ya kasihan, lebih mencitai kekasihnya dari pada Tuhannya…
Apa yang Ia dapatkan dengan mencurahkan semua cintanya pada seorang Wanita.. Bukankah Cinta kita harusnya diberikan sepenuhnya hanya pada Sang Khaliq.. Dia tidak pernah butuh cinta kita. Kita yang butuh cintaNya.. Naudzubillah…

Semoga bermanfaat

Best regards

- u g H a -

Minggu, 14 Maret 2010

Tahun BARU 2009

Moment baggia dan sangat mnenyenangkan.. Thank U friend.. meluangkan waktu untuk menjemput saya di Air Prot, mengajak saya keliling makassar saat tahun baru, jalan-jalan ke Malino meskipun sebenarnya kita tau, kita masing-masing punya orang tua dan keluarga yang ingin menghabiskan akhir tahun bersama kita.. namun bukan karena kita tidak sayang pada mereka, melainkan mereka ikut dalam hati kita, selalu, kemanapun kita pergi.. (Bukan apology nah.. hahahaha...)

`praY..lOVE...MassiPA...`

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan tumbuh bersama karenanya… Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak(…kita dlu menyebutnya… dengan istilah `KUbU-kUbU)…:, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.
Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah. Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan
dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya…(..kali aja dorfin..bisa..tau… how..much we love heR)>?>>. Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. (..dan …kita berhasill..mendapatkan…MASSIPA)…Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.(..seperti kasus… fera..-FErY..SEKARAng..oh..goD…Hope..SO..bad..daY..CEPAT berlalU..WE..Love U…So..FeRaRi…)…
Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda ?? Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai?? Siapa yang ingin bersama anda saat anda tak bisa memberikan apa-apa??
Hargai dan peliharalah selalu persahabatan KITA,.. iNI anugerah(..BUKAN ANUGRAH NInGRaT ya…), persahabatan itu persaudaraan sesama insane(..meskIpUN SAtU SM lain.. DINTARA KiTA… ada..cinta….`sesame jeniS(..TEBAk2…Mi Ki SIAPa…wkwk, dan CINTA LAWAN jenis..( terbUkti… di FERA-FERY…vS mila-hamka…tapI,,,PERSAHABTAn..iNI ttP… seperti DLu… cinta..Yg kita..pUnya… besarNYA..SEPERTI..ALAM SEMESTA…), persahabatan KIta adalah persaudaraan yang akrab atas dasar-dasar ketulusan, keikhlasan, kejujuran dan arti persahabatan yang tulus suci berpaksikan keimanan dan persahabatan kita..adalah amanah seorang sahabat di dalam menjalinkan persahabatan….
(MUCH..love..for..U..aLL..my..saRibaTTAng….from..Yurika..RuslI..,SH….)

Rabu, 18 Juli 2007

M 4551 PA


They Are :
1. Arjuna Rasjid, Juna.
2. Darwis, Odji.
3. Hamka, Yaci.
4. H. Rahmat, Adji.
5. Irfan, Ippang.
6. Muh. Ferial, Feri.
7. Amelia Amir, Mila.
8. A. Rahmi D, Ami.
9. A. Sukmawati MS, Shukma.
10. Dorpin Buratasik, Ophien.
11. Eni Sulistiyowati, eny.
12. Ferawati Kamal, Fera.
13. Fitriani Bakri, Tia.
14. Rahyuni Rahman, Unhi.
15. Sri Kamalia, Lilho.
16. Yurika Rusli, Yayu.
Dan tentunya saya sendiri,
17. Anugrah Ningrat, ugHa..


Untuk kegiatan yang pernah kami lewati adalah:
1. Buka puasa bersama anak yatim (Tahun 2004 dan 2005)
2. Sunatan Massal di Kab. Gowa tahun 2006.
3. Pengentasan buta aksara Al-Quran di Kab. Jeneponto tahun 2006
4. Dan tentunya kajian keilmuan kami (Ilmu HUKUM) setiap hari senin di danau UNHAS.
disamping kegiatan2 non organisir yang melibatkan teman-teman lain di FH-UH 02